KEKELIRUAN HAJI DI MASA JAHILIYAH

jamarat kuno
jamarat kuno
Lebih kurang lima tahun lalu penulis pernah mengulas beberapa ayat al-Quran tentang haji secara ringkas. Melalui tulisan ini penulis akan coba meringkasnya kembali, terutama dalam hal kekeliruan haji di masa jahiliyah.
Menurut Syaikh Dr. Muhammad Rabi’ah, secara umum terdapat 28 ayat yang membahas haji secara spesifik dalam al-Quran. Ayat-ayat ini tersebar pada surat al-Baqarah, al-Maidah, dan al-Hajj. Jangan tanya jumlah haditsnya, saya kira ada ratusan atau bahkan ribuan hadits.
Selain membahas tentang tujuan, hikmah, dan ritual haji; pada ayat tersebut juga dibahas tentang bantahan atas kekeliruan ritual haji yang dilakukan di masa jahiliyah, di antaranya adalah:
1. MENGUBAH BACAAN TALBIYAH
Bacaan talbiyah sudah dikenal sejak zaman jahiliyah, namun kekeliruan fatal yang dilakukan oleh kaum jahiliyah dahulu adalah menambahkan pada akhir kalimat dengan

إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ

“kecuali sekutu bagi-Mu yang memang Kau kuasai dan ia tidak menguasai” (HR. Muslim: 2032)
Mereka mengatakan ini di tengah aktivitasnya berthawaf di Baitullah Orang yang pertama kali mengucapkan talbiyah yang benar di Kota Makkah, sekalipun saat itu Makkah masih dikuasai oleh kafir adalah Tsumamah bin Utsal al-Hanafi. Beliau adalah seorang raja Yamamah yang masuk Islam kemudian memberanikan diri membaca talbiyah di Kota Makkah yang masih dikuasai kuffar. Karena perbuatan inilah beliau dikeroyok hingga pingsan.
2. PERBUATAN AN-NASI’
Penyimpangan lain yang dilakukan kaum jahiliyah adalah mengubah-ubah (mengajukan atau mengundurkan) ketentuan bulan Haram. Terutama pada bulan Muharam, hal ini tentu juga berpengaruh pada faktor keamanan saat kepulangan jamaah haji.
Karenanya Allah berfirman,

إنما النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَاماً وَيُحَرِّمُونَهُ عَاماً لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Sesungguhnya pengunduran (bulan haram) itu hanya menambah kekafiran. Orang-orang kafir disesatkan dengan (pengunduran) itu, mereka menghalalkannya suatu tahun dan mengharamkannya pada suatu tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan Allah, sekaligus mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) dijadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan buruk mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 37)
3. BERTEDUH DI BAWAH ATAP SAAT IHRAM
Di antara kekeliruan haji di masa jahiliyah adalah tidak mau berteduh di bawah atap atau naungan apapun. Saat masuk ke dalam rumah pun mereka sampai harus memanjat dinding belakang rumah kemudian beristirahat di halaman belakang rumah. Mengapa tidak masuk rumah dari bagian depan? Karena bagian depan rumah terdapat atap.
Maka turunlah ayat,

وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَن تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا

“Dan bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah dari atasnya, tetapi kebajikan adalah (kebajikan) orang yang bertakwa. Masukilah rumah-rumah dari pintu-pintunya.” (QS. Al-Baqarah: 189)
Perbuatan ini masih banyak dijumpai hingga kini terutama pada jamaah haji Syi’ah. Penulis beberapa kali menjumpai sendiri kaum Syi’ah sampai memotong atap bus karena pantang berteduh di bawah atap. Na’udzubillahi min dzalik.
4. JUAL BELI SAAT HAJI
Keyakinan jahiliyah zaman dahulu, di tengah prosesi haji para jamaah dilarang keras melakukan jual beli. Maka transaksi jual beli pun dipusatkan sebelum haji dengan menggelar pasar ukadz dan berbagai festival/perlombaan syair. Pemenang lomba tersebut akan digantungkan syairnya di depan Ka’bah. Untuk membantah ini, diturunkan ayat

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu” (QS al-Baqarah 198)
Ini adalah solusi dari masalah perbekalan. Ketika ada larangan berburu bagi orang yang berihram, maka muncul kemudahan berdagang. Alhamdulillah. Jadi kalau Anda menjumpai jamaah haji yang masih menjalankan bisnis padahal masih berhaji. It’s ok.
5. MENGUBAH PROSESI WUKUF
Kekeliruan zaman dahulu yang juga cukup fatal adalah kaum kafir Quraisy enggan melakukan wukuf haji di Arafah; tetapi mereka melakukannya di Muzdalifah.
Mengapa demikian? Karena Muzdalifah masih berada di wilayah Tanah Suci, sementara Arafah ada di luar Tanah Suci. Mereka sebagai penduduk Tanah Suci memiliki keyakinan dan kesombongan pantang untuk keluar dari Tanah Suci jika bukan karena alasan mendesak. Maka turunlah ayat,

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Baqarah 199)
Rasulullah pun mencontohkan bahwa wukuf haji tempatnya di Arafah (alhajju’ arafah). Maka atas berbagai kesalahan yang telah mereka perbuatan di masa lalu, hendaknya beristighfar kepada Allah.
Oleh Rafiq Jauhary
Pembimbing Ibadah Haji Taqwa Tours

Bagikan:

Artikel Terbaru

BACAAN TALBIYAH

Talbiyah adalah dzikir yang sangat dianjurkan untuk banyak dibaca oleh jamaah umrah mulai sejak ihram dipakai sampai ihram ditanggalkan. Sekalipun di sela waktu yang ada

DOA PAMITAN UMROH

Sebelum menjalankan ibadah umrah para jamaah dianjurkan untuk berpamitan kepada kerabat terdekat. Pamitan dapat dilakukan dengan pesan singkat sms, telepon, berkunjung secara langsung ke rumah

Apa yang kamu cari?