HUKUM PEREMPUAN BERHAJI ATAU BERUMRAH TANPA MAHRAM

foto: labbaikdotid

Secara umum hukum perempuan yang melakukan perjalanan tanpa mahram terbagi dalam tiga pembahasan.

Pembahasan Pertama

Perempuan yang melakukan perjalanan untuk hijrah dari suatu daerah karena adanya tekanan dalam hal keimanan sehingga ia harus menyelamatkan keimanannya ke daerah lain, maka ia boleh berhijrah sekalipun tanpa adanya mahram. Hal ini telah disepakati para ulama, sebagaimana disampaikan Ibnu Mulqin.

Pembahasan Kedua

Perempuan yang menjalankan haji atau umrah yang pertama kali baginya, inilah haji atau umrah yang wajib.

Pada masalah ini Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbali, serta ulama lain seperti Hasan al-Basri dan Ibrahim an-Nakha’i berpendapat bahwa mahram adalah syarat yang harus dipenuhi ketika seorang perempuan hendak menjalankan haji atau umrah yang wajib.

Sementara Imam Malik, Imam as-Syafi’i, serta ulama lain seperti Ibnu Sirin, al-Auza’i, dan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa keberadaan mahram tidak menjadi syarat dalam pelaksanaan haji dan umrah wajib; hanya saja perempuan tersebut harus dipastikan dalam kondisi aman.

Kondisi seperti ini pernah terjadi pada kepemimpinan Umar Bin Khattab, di saat itu Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi) hendak menjalankan Ibadah haji, maka Umar Bin Khattab mengizinkannya dan memastikan bahwa rombongan ini dalam kondisi aman.

Pembahasan Ketiga

Perempuan yang melakukan perjalanan umum atau perjalanan haji umrah namun bukan haji umrah yang pertama baginya. Karena haji umrah yang dilakukan untuk kedua kalinya adalah haji umrah yang sunnah.

Dalam hal ini imam Abu Hanifah berpendapat bilamana perjalanannya pendek, maka boleh dikerjakan tanpa mahram. Adapun jika perjalanannya jauh, maka tetap harus dengan mahram. Sementara imam Madzhab lainnya tidak membedakan antara perjalanan jauh ataupun pendek.

Adapun pendapat dalam Madzhab Syafi’i, seorang perempuan diperbolehkan melakukan perjalanan haji ataupun umrah tanpa adanya mahram, sekalipun ini bukanlah haji atau umrah yang wajib dan beliau tidak membedakan antara perjalanan panjang ataupun pendek, namun dengan syarat ia dipastikan keamanannya.

Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ menerangkan tentang hukum seorang perempuan yang bepergian haji yang sunnah atau bepergian dengan tujuan umum bersama dengan perempuan lain yang dapat dipercaya dan dalam kondisi aman; bahwa hal ini diperbolehkan. Pendapat ini juga dikuatkan oleh para ulama lain dalam Madzhab Syafi’i seperti Imam al-Mawardi, al-Baghawi dan ar-Rafi’i.

Namun ulama lain di luar Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa perjalanan umum, atau juga perjalanan haji dan umrah yang bukan wajib, maka harus disertai dengan mahram.

Saran:

Kondisi masyarakat di Indonesia yang mayoritas mengikuti Madzhab Syafi’i, dan dengan perkembangan penyelenggaraan haji dan umrah yang relatif aman dan terkelola dengan baik; maka bagi para jamaah perempuan yang tidak memiliki mahram atau mahramnya berhalangan, hendaknya ia mencari teman sesama perempuan yang dapat dipercaya dan dapat saling menjaga keamanannya.

Para penyelenggara haji dan umrah pun hendaknya mengimbau agar para jamaah perempuan berangkat ke Baitullah disertai dengan mahram, namun jika tidak ada mahram yang mendampingi agar digabungkan bersama dengan kelompok jamaah perempuan lain, kemudian memberikan pesan khusus bagi para jamaah perempuan agar saling menjaga diri.

Allahu a’lam bis-shawab.

Rafiq Jauhary
Pembimbing Umrah Taqwa Tours

Gabung Group Whatsapp
bit.ly/pesantrenhajiumrah1
bit.ly/pesantrenhajiumrah2
bit.ly/pesantrenhajiumrah3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *